Beranda / Ekologi Terapan/Inovasi Hayati / Agroforestri Kopi di Lahan Kritis Nusa Tenggara Barat Pulihk...
Ekologi Terapan/Inovasi Hayati

Agroforestri Kopi di Lahan Kritis Nusa Tenggara Barat Pulihkan 500 Hektar Tanah

Agroforestri Kopi di Lahan Kritis Nusa Tenggara Barat Pulihkan 500 Hektar Tanah

Penerapan agroforestri kopi di lahan kritis lereng Rinjani, NTB, berhasil memulihkan 500 hektar tanah dengan mengurangi erosi hingga 60% dan meningkatkan cadangan air tanah. Produksi kopi naik 40% berkat tanah yang lebih subur, sementara penyimpanan karbon mencapai 30 ton per hektar. Model ini ditargetkan direplikasi ke 1.000 hektar pada 2027 dengan pendanaan kredit karbon.

Lahan kritis di lereng Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat, mencapai 3.000 hektar akibat praktik pertanian monokultur yang berlangsung puluhan tahun. Degradasi tanah yang parah tidak hanya mengancam produktivitas pertanian, tetapi juga memicu erosi dan menurunnya cadangan air tanah. Namun, sejak tahun 2024, sebuah terobosan inovatif mulai menunjukkan hasil nyata: penerapan sistem agroforestri kopi robusta yang dipadukan dengan pohon pelindung. Model ini tidak hanya menjadi solusi konservasi tanah, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi petani setempat.

Agroforestri Kopi: Solusi Inovatif untuk Lahan Kritis

Kelompok tani di sekitar Rinjani, dengan pendampingan WWF, menerapkan sistem agroforestri yang menanam kopi robusta di bawah naungan pohon lamtoro dan sengon. Pemilihan kopi robusta didasarkan pada ketahanannya terhadap kondisi lahan marginal, sementara lamtoro dan sengon berfungsi sebagai pohon penaung yang mampu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan infiltrasi air, dan menyediakan bahan organik melalui serasah daun. Sistem ini bekerja secara alami: akar pohon mengikat tanah sehingga mengurangi erosi, tajuknya mengurangi intensitas hujan langsung ke permukaan, dan seresah daun memperkaya unsur hara. Hasilnya, erosi tanah berhasil ditekan hingga 60% dan cadangan air tanah meningkat signifikan, menciptakan lingkungan yang lebih stabil bagi pertumbuhan kopi.

Selain manfaat lingkungan, pendekatan ini juga memberikan dampak positif pada penyimpanan karbon. Data menunjukan bahwa sistem agroforestri kopi mampu menyimpan karbon hingga 30 ton per hektar, menjadikannya strategi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang efektif. Model ini dinilai sangat adaptif untuk daerah dengan kemiringan tinggi, di mana praktik pertanian konvensional seringkali memperparah erosi dan longsor. Dengan demikian, agroforestri tidak hanya memulihkan lahan kritis, tetapi juga menjaga fungsi ekologis DAS Rinjani yang vital bagi masyarakat di sekitarnya.

Dampak Ekonomi dan Target Replikasi

Dari sisi ekonomi, hasil panen kopi meningkat 40% setelah penerapan agroforestri, karena tanah yang lebih subur dan terlindungi dari erosi. Petani tidak hanya mendapatkan kopi berkualitas, tetapi juga hasil hutan non-kayu seperti kayu lamtoro dan sengon yang dapat dimanfaatkan untuk kayu bakar atau bahan bangunan. Keberhasilan ini menarik perhatian berbagai pihak, dan WWF menargetkan replikasi sistem agroforestri ke lahan seluas 1.000 hektar pada tahun 2027. Pendanaan untuk perluasan ini akan berasal dari skema kredit karbon, mengingat kemampuan agroforestri dalam menyerap dan menyimpan karbon. Langkah ini membuka peluang pendanaan berkelanjutan yang tidak hanya memulihkan lahan kritis, tetapi juga memberikan insentif ekonomi bagi petani melalui perdagangan karbon.

Keberhasilan di NTB menjadi contoh nyata bagaimana agroforestri dapat menjadi solusi tepat untuk mengatasi krisis lahan kritis di Indonesia. Dengan pendekatan yang terintegrasi antara konservasi tanah, peningkatan hasil kopi, dan partisipasi masyarakat, model ini layak direplikasi di daerah lain yang memiliki kondisi serupa. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, LSM, dan sektor swasta, menjadi kunci untuk mempercepat pemulihan lahan kritis dan mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan. Inovasi ini membuktikan bahwa alam dan pertanian dapat berjalan seiring, memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan dan kesejahteraan petani.

Organisasi: WWF