Kota Bandung menghadapi dua persoalan lingkungan perkotaan yang saling terkait: banjir musiman dan penurunan muka air tanah. Drainase yang tidak lagi mampu menampung debit air hujan membuat genangan terjadi hampir setiap musim hujan. Di sisi lain, pengambilan air tanah yang berlebihan menyebabkan permukaan air tanah turun hingga 2 meter per tahun. Kondisi ini mengancam keberlanjutan air bersih serta memperparah risiko banjir. Namun, di tengah tantangan itu, muncul sebuah solusi praktis yang sederhana dan murah: biopori. Pemerintah Kota Bandung bersama komunitas peduli lingkungan menjadikan biopori sebagai gerakan massal untuk konservasi air dan pengurangan risiko banjir di kawasan perkotaan.
Solusi Praktis Biopori Massal untuk Perkotaan
Program ini difokuskan di 30 kelurahan yang rawan banjir. Setiap rumah didorong untuk membuat 5 lubang biopori berdiameter 10 sentimeter dan kedalaman 1 meter. Lubang-lubang ini kemudian diisi dengan sampah organik, yang menjadi media bagi mikroorganisme untuk meresapkan air sekaligus mengurai limbah. Hingga saat ini, total 100.000 lubang biopori telah berhasil dibuat. Pendekatan ini sangat aplikatif karena tidak membutuhkan teknologi mahal atau lahan khusus—setiap pekarangan, halaman, atau bahkan area sempit di permukiman padat bisa dimanfaatkan. Melalui gerakan ini, warga tidak hanya berpartisipasi dalam mitigasi banjir, tetapi juga dalam pengelolaan sampah organik dari sumbernya.
Cara kerja biopori terbilang sederhana namun efektif. Air hujan yang jatuh ke permukaan tanah akan masuk ke lubang dan meresap ke lapisan tanah di bawahnya, sehingga mengurangi volume genangan di saluran drainase. Sampah organik yang dimasukkan ke dalam lubang akan terurai secara alami dan menjadi pupuk alami yang menyuburkan tanah. Dengan begitu, biopori berfungsi ganda: sebagai saluran resapan air dan sebagai komposter bawah tanah. Inovasi ini sejalan dengan prinsip sustainable urban drainage system, di mana air hujan dikelola sedekat mungkin dengan sumbernya untuk menjaga keseimbangan hidrologi.
Dampak Nyata dan Target Ambisius ke Depan
Hasilnya sudah mulai terlihat. Genangan air di permukaan berkurang hingga 40 persen berkat meningkatnya air hujan yang meresap ke dalam tanah. Selain itu, laju penurunan muka air tanah menjadi melambat, menandakan bahwa program konservasi air ini berfungsi. Dari sisi pengelolaan sampah, sampah organik rumah tangga yang diurai dalam biopori ikut mengurangi volume sampah yang harus diangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA). Dampak sosial-ekonomi juga dirasakan: lingkungan menjadi lebih aman dari genangan, ketersediaan air tanah lebih terjaga, dan biaya pengelolaan sampah dapat ditekan.
Pemerintah Kota Bandung menargetkan pembuatan 500.000 lubang biopori pada tahun 2028. Sebagai insentif, rumah-rumah yang berpartisipasi akan mendapatkan pengurangan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Langkah ini menunjukkan bagaimana kebijakan fiskal dapat digunakan untuk mendorong aksi lingkungan di tingkat akar rumput. Inovasi biopori ini membuktikan bahwa solusi praktis dan partisipatif mampu menjawab tantangan banjir dan krisis air di wilayah perkotaan. Kota-kota lain yang menghadapi permasalahan serupa dapat mereplikasi model ini dengan menyesuaikan kondisi lokal, karena keunggulan utamanya adalah biaya murah, mudah diterapkan, dan berdampak langsung bagi lingkungan serta kesejahteraan masyarakat. Dengan keberlanjutan gerakan seperti ini, kita tidak hanya membangun ketahanan kota terhadap perubahan iklim, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa aksi kecil di pekarangan rumah dapat membawa perubahan besar bagi bumi.