Beranda / Teknologi Ramah Bumi / BRIN Uji Coba Bahan Bakar Petasol dari Limbah Plastik untuk...
Teknologi Ramah Bumi

BRIN Uji Coba Bahan Bakar Petasol dari Limbah Plastik untuk Nelayan

BRIN Uji Coba Bahan Bakar Petasol dari Limbah Plastik untuk Nelayan

BRIN menghadirkan solusi inovatif bernama Petasol, bahan bakar dari limbah plastik hasil teknologi pirolisis Fastpol Gen 5. Inovasi ini telah terbukti di uji coba lapangan, mengurangi emisi hingga 79%, dan berpotensi memberi keuntungan ekonomi. Petasol menawarkan solusi win-win untuk krisis sampah plastik dan kebutuhan energi nelayan, dengan potensi replikasi besar di daerah pesisir.

Laut Indonesia yang indah, sumber kehidupan bagi jutaan nelayan, kini terancam oleh dua krisis sekaligus: tumpukan limbah plastik dan ketergantungan yang tinggi pada bahan bakar fosil. Kebutuhan energi untuk mesin perahu seringkali menjadi beban ekonomi, sementara sampah plastik yang tak terkelola mencemari ekosistem pesisir dan laut. Menjawab tantangan ganda ini, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menghadirkan terobosan solutif bernama Petasol, sebuah bahan bakar alternatif yang dihasilkan dari konversi limbah plastik melalui teknologi pirolisis canggih, Fastpol Gen 5.

Pirolisis Fastpol Gen 5: Teknologi Inti di Balik Solusi

Inovasi Petasol berpusat pada teknologi pirolisis Fastpol Gen 5 yang dikembangkan oleh BRIN. Pirolisis adalah proses dekomposisi termal tanpa oksigen yang mampu mengubah plastik kembali menjadi fraksi minyak. Keunggulan utama teknologi ini adalah kemampuannya mengolah berbagai jenis plastik, seperti LDPE, HDPE, PP, dan PS, bahkan dalam kondisi basah atau kotor. Ini merupakan terobosan signifikan karena menyederhanakan proses pra-pengolahan sampah, yang biasanya menjadi kendala dalam daur ulang. Dengan desain yang tepat, satu unit mesin berkapasitas 50 kg mampu menangani sampah dari sekitar 1.000 kepala keluarga, menjadikannya solusi yang ideal untuk skala komunitas, khususnya di daerah pesisir.

Keberhasilan inovasi ini tidak hanya di atas kertas. Pada April 2026, BRIN melakukan uji coba langsung di lapangan dengan menggunakan Petasol untuk menjalankan mesin perahu nelayan di Donorojo, Jepara. Hasilnya sukses dan membuktikan aplikabilitas teknologi ini dalam kondisi nyata. Analisis laboratorium yang dilakukan BRIN dan Lemigas (Lembaga Minyak dan Gas Bumi) juga menunjukkan bahwa kualitas bahan bakar hasil pirolisis ini telah memenuhi standar mutu Solar, yaitu Diesel 48 dan 51. Uji coba ini menjadi bukti konkret bahwa limbah plastik dapat diubah menjadi energi alternatif yang andal untuk sektor produktif seperti perikanan.

Dampak Ganda: Lingkungan Lestari dan Ekonomi Menguat

Kehadiran Petasol menawarkan dampak ganda yang sangat positif. Dari sisi lingkungan, proses pirolisis ini dapat mengurangi emisi gas rumah kaca setara CO2 hingga 79% dibandingkan dengan opsi pembakaran terbuka sampah plastik. Artinya, selain membersihkan lingkungan dari sampah, proses konversinya juga jauh lebih bersih. Di sisi ekonomi, inovasi ini berpotensi menciptakan nilai tambah yang signifikan. Perhitungan menunjukkan potensi keuntungan ekonomi sekitar Rp 4.700 per liter bahan bakar yang dihasilkan. Nilai ini dapat kembali ke masyarakat melalui pengelolaan sampah yang menghasilkan bahan bakar murah, mengurangi biaya operasional nelayan, dan bahkan menciptakan peluang usaha baru di bidang pengolahan sampah.

Potensi replikasi dan pengembangan teknologi Petasol sangat besar. Daerah pesisir dengan akumulasi sampah plastik tinggi dan komunitas nelayan yang membutuhkan pasokan energi terpercaya adalah lokasi yang paling tepat untuk penerapan skala luas. Teknologi ini menawarkan model sirkular ekonomi yang nyata: sampah plastik yang mengotori lingkungan diubah menjadi sumber energi yang menggerakkan ekonomi lokal. Pendekatan berbasis komunitas ini juga memberdayakan masyarakat untuk menjadi bagian aktif dari solusi, mengelola sampah mereka sendiri menjadi sumber daya yang bernilai.

Petasol adalah lebih dari sekadar inovasi bahan bakar; ia adalah simbol transformasi paradigma dalam melihat masalah. Limbah plastik bukan lagi sekadar beban lingkungan, melainkan potensi energi yang terpendam. Inisiatif ini mengajak kita untuk berpikir kreatif dan berani menerapkan teknologi tepat guna guna memecahkan dua masalah sekaligus. Dengan dukungan kebijakan, investasi, dan komitmen kolektif, model seperti Petasol dapat direplikasi di berbagai penjuru Indonesia, memperkuat ketahanan energi lokal, membersihkan lingkungan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir—langkah nyata menuju Indonesia yang lebih berdaulat energi dan berkelanjutan.

Organisasi: BRIN, Lemigas