Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia, khususnya di ekosistem gambut, merupakan bencana lingkungan tahunan yang kompleks. Tantangan utamanya terletak pada sifat api yang merambat di bawah permukaan tanah gambut, membuat metode pemadaman konvensional seringkali tidak efektif. Menyadari urgensi ini, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menghadirkan solusi inovatif yang tidak hanya efektif tetapi juga memanfaatkan potensi lokal.
Inovasi 'Ubi Bombing': Teknologi Pemadaman dari Tepung Singkong
BRIN mengembangkan formula cairan pemadam kebakaran revolusioner yang disebut 'Ubi Bombing'. Inovasi ini berbasis pada tepung singkong yang dicampur dengan amonium polifosfat, sebuah senyawa flame retardant. Cara kerjanya brilian: campuran ini membentuk lapisan isolator panas di atas lahan gambut, secara efektif memotong suplai oksigen dan menghambat laju penyebaran api dari bawah tanah. Pendekatan ini merupakan terobosan dalam pemadaman karhutla yang selama ini sulit ditangani. Penggunaan bahan baku lokal seperti tepung singkong menunjukkan bahwa solusi keberlanjutan dapat lahir dari sumber daya dalam negeri yang melimpah.
Drone dan Efektivitas: Strategi Pemadaman Masa Depan
Agar aplikasinya lebih efisien di lapangan, BRIN merencanakan penyemprotan cairan ini menggunakan drone. Metode ini dianggap strategis karena mampu menjangkau titik-titik api di lahan yang terisolasi dan sulit diakses oleh tim darat. Dengan estimasi kebutuhan 2.000 liter per hektar, penggunaan drone tidak hanya meningkatkan efektivitas pemadaman tetapi juga meningkatkan keselamatan petugas di lapangan. Inovasi ini membuka ruang kolaborasi antara riset kimia material dan teknologi penerbangan untuk penanganan bencana lingkungan yang lebih modern dan inovatif.
Dampak potensial dari 'Ubi Bombing' sangat luas. Secara lingkungan, teknologi ini menawarkan solusi nyata untuk mengendalikan kebakaran di lahan gambut yang rentan, sehingga mengurangi emisi karbon dan kerusakan ekosistem. Secara sosial dan ekonomi, inovasi ini dapat mengurangi kerugian akibat kabut asap dan kerusakan lahan produktif. Ke depannya, tantangan utama adalah pengembangan skala besar dan produksi bahan baku amonium polifosfat dalam negeri untuk menekan biaya dan mewujudkan kemandirian teknologi. Potensi replikasi teknologi ini di daerah rawan karhutla lainnya di Indonesia sangat terbuka, menjadikannya solusi yang aplikatif dan berkelanjutan.
Inovasi 'Ubi Bombing' dari BRIN membuktikan bahwa krisis lingkungan seperti karhutla dapat dihadapi dengan kreativitas dan riset yang terarah. Dengan memanfaatkan potensi lokal dan teknologi modern, kita tidak hanya memadamkan api tetapi juga menyalakan harapan untuk masa depan yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim. Langkah ini menjadi panggilan bagi kita semua untuk mendukung riset dan inovasi lokal yang berkelanjutan.