Beranda / Ekologi Terapan/Inovasi Hayati / Budi Daya Kepiting Bakau di Lahan Rehabilitasi Pesisir Panta...
Ekologi Terapan/Inovasi Hayati

Budi Daya Kepiting Bakau di Lahan Rehabilitasi Pesisir Pantai Utara Jawa

Budi Daya Kepiting Bakau di Lahan Rehabilitasi Pesisir Pantai Utara Jawa

Inovasi silvofishery intensif terpadu di Demak, Jawa Tengah, mengintegrasikan budi daya kepiting bakau dengan rehabilitasi mangrove sebagai solusi untuk memulihkan ekosistem pesisir yang terdegradasi sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat. Pendekatan ini menghasilkan pendapatan bersih Rp 40–50 juta per siklus per hektar, membuktikan bahwa akuakultur dan pelestarian lingkungan dapat berjalan sinergis. Model ini berpotensi direplikasi di wilayah pesisir Indonesia lainnya untuk memperkuat ketahanan pangan dan keberlanjutan ekologis.

Degradasi hutan mangrove di pesisir utara Jawa (Pantura) selama beberapa dekade terakhir telah menimbulkan dampak serius: hilangnya habitat kritis, percepatan abrasi pantai, dan merosotnya pendapatan nelayan tradisional yang bergantung pada sumber daya pesisir. Krisis ini mengancam ketahanan pangan masyarakat setempat sekaligus memperparah kerusakan ekosistem. Namun, di tengah tantangan tersebut, sebuah inovasi kolaboratif muncul sebagai solusi konkret untuk memulihkan lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan.

Silvofishery: Inovasi Budidaya Ramah Mangrove

Universitas Diponegoro, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), serta kelompok masyarakat di Demak, Jawa Tengah, mengembangkan model budi daya kepiting bakau (Scylla serrata) yang terintegrasi dengan rehabilitasi mangrove. Pendekatan yang dikenal sebagai silvofishery intensif terpadu ini merupakan terobosan dalam akuakultur karena menggabungkan rehabilitasi ekologis dengan produksi pangan secara langsung. Bibit kepiting bakau ditebar di petak-petak tambak yang didesain khusus di antara tegakan mangrove muda yang baru ditanam. Mangrove berfungsi sebagai penyedia pakan alami (detritus) dan tempat berlindung bagi kepiting, sementara aktivitas menggali kepiting membantu menyuburkan tanah di sekitar akar mangrove. Sistem ini dirancang untuk menghindari konversi lahan mangrove menjadi tambak tradisional yang justru memperparah kerusakan.

Dampak Ekonomi dan Ekologi yang Berkelanjutan

Dalam satu siklus budi daya yang berlangsung 4–5 bulan, petambak dapat memanen kepiting dengan ukuran ekspor (minimal 300 gram per ekor) dari lahan seluas 1 hektar. Pendapatan bersih yang diperoleh mencapai Rp 40–50 juta per siklus, jauh lebih tinggi dibandingkan hasil budi daya bandeng atau udang tradisional di wilayah yang sama. Fakta ini menunjukkan bahwa rehabilitasi mangrove dan akuakultur dapat berjalan sinergis tanpa saling mengorbankan. Dampak dari model ini sangat nyata dan multidimensi: secara ekonomi, masyarakat pesisir yang sebelumnya kehilangan mata pencaharian kini memiliki sumber pendapatan yang stabil dan bernilai tambah, dengan akses ke pasar internasional yang memperkuat ketahanan pangan dan devisa negara. Secara ekologis, karena pendapatan petambak terkait langsung dengan keberadaan mangrove, timbul motivasi kuat dari masyarakat untuk menjaga dan menambah luas penanaman mangrove. Kawasan pesisir yang terdegradasi berangsur pulih, abrasi berkurang, dan ekosistem kembali berfungsi sebagai penyangga pantai.

Inovasi ini membuktikan bahwa solusi berbasis alam (nature-based solution) dapat memberikan insentif ekonomi langsung, sehingga keberlanjutan lingkungan bukan lagi sekadar wacana melainkan praktik keseharian. Model silvofishery intensif terpadu di Demak sangat aplikatif untuk direplikasi di berbagai wilayah pesisir Indonesia yang telah mengalami degradasi mangrove, membuka peluang baru dalam memperkuat ketahanan pangan melalui akuakultur yang ramah lingkungan. Langkah ini menjadi refleksi penting: pemulihan alam dan peningkatan kesejahteraan bisa berjalan beriringan jika inovasi dan kolaborasi menjadi fondasi utamanya.

Organisasi: Universitas Diponegoro, Kementerian Kelautan dan Perikanan