Beranda / Ketahanan Pangan / Demofarm Pertanian Rendah Emisi untuk Uji Ketahanan Iklim di...
Ketahanan Pangan

Demofarm Pertanian Rendah Emisi untuk Uji Ketahanan Iklim di Pangandaran

Demofarm Pertanian Rendah Emisi untuk Uji Ketahanan Iklim di Pangandaran

Demofarm pertanian terintegrasi rendah emisi di Desa Babakan, Pangandaran, hadir untuk menjawab ancaman perubahan iklim terhadap produktivitas hortikultura. Dikembangkan oleh JAMTANI dan BRIN, model ini memadukan pemupukan berimbang, biopestisida, serta ekonomi sirkular untuk menekan emisi gas rumah kaca. Jika berhasil, inovasi ini berpotensi direplikasi di berbagai daerah sebagai pertanian masa depan yang produktif dan berkelanjutan.

Perubahan iklim yang memicu cuaca ekstrem kini menjadi ancaman serius bagi produktivitas dan keberlanjutan sektor pertanian. Pola tanam konvensional yang bergantung pada pupuk kimia sintetis semakin rentan terhadap tekanan lingkungan. Menjawab tantangan ini, Jaringan Masyarakat Tani Indonesia (JAMTANI) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) meluncurkan demofarm pertanian terintegrasi rendah emisi di Desa Babakan, Pangandaran. Inisiatif ini menjadi langkah nyata untuk menguji model pertanian yang tangguh terhadap iklim, sekaligus menjaga produktivitas hortikultura di tengah krisis lingkungan.

Solusi Pertanian Rendah Emisi dengan Ekonomi Sirkular

Demofarm ini menanam empat komoditas hortikultura, yaitu bawang merah, cabai, mentimun, dan melon, dengan pola terpadu yang mengedepankan efisiensi input dan keramahan lingkungan. Pendekatan yang digunakan tidak sekadar mengurangi dampak negatif, tetapi juga memperbaiki kualitas ekosistem lahan. Pertanian rendah emisi yang diuji coba di Pangandaran ini membuktikan bahwa praktik pertanian modern dapat selaras dengan alam.

Cara kerja model ini bertumpu pada pemupukan berimbang menggunakan pupuk kandang dan inokulum hayati, serta pengendalian hama dengan biopestisida seperti BioSalima dan TurfaMet. Dengan demikian, petani dapat menekan penggunaan bahan kimia sintetis tanpa mengorbankan kesehatan tanaman. Konsep ekonomi sirkular diterapkan melalui pemanfaatan limbah organik dan kotoran ternak setempat sebagai sumber nutrisi. Limbah yang sebelumnya menjadi masalah lingkungan, kini dikonversi menjadi input produksi yang bernilai, mengurangi ketergantungan pada pupuk impor sekaligus menekan biaya operasional.

Dampak Nyata dan Potensi Replikasi untuk Masa Depan

Riset lapangan di demofarm ini tidak hanya mengukur produktivitas tanaman, tetapi juga menganalisis penurunan penggunaan input kimia dan potensi reduksi emisi gas rumah kaca seperti CO2, N2O, dan CH4. Data yang dihasilkan akan menjadi bukti ilmiah bahwa pertanian rendah emisi mampu menjaga hasil panen sekaligus melindungi iklim. Jika hasilnya positif, model ini berpeluang besar direplikasi oleh kelompok tani lain di Pangandaran dan berbagai daerah lain.

Keberhasilan demofarm ini menegaskan bahwa adaptasi terhadap krisis iklim bukan sekadar wacana, melainkan aksi nyata yang dapat dieksekusi di tingkat akar rumput. Perpaduan antara inovasi teknologi, kearifan lokal, dan dukungan riset menciptakan ekosistem pertanian yang produktif, adaptif, dan menguntungkan secara ekonomi. Dengan replikasi yang meluas, pertanian hortikultura masa depan mampu menjadi penyangga ketahanan pangan nasional sekaligus penyerap emisi yang efektif. Inilah momentum bagi semua pihak untuk mendukung dan menerapkan praktik serupa demi masa depan yang lebih berkelanjutan.

Organisasi: Jaringan Masyarakat Tani Indonesia (JAMTANI), BRIN