Indonesia, sebagai salah satu penghasil buah tropis terbesar di dunia seperti mangga, pisang, dan jambu biji, masih menghadapi tantangan serius dalam rantai pascapanen. Data menunjukkan bahwa food loss pada buah-buahan tropis mencapai angka mengkhawatirkan, yaitu 20 hingga 30 persen. Kerugian ini terutama disebabkan oleh proses pembusukan selama distribusi dan penyimpanan. Akibatnya, tidak hanya petani dan pedagang yang mengalami kerugian ekonomi, tetapi limbah buah yang membusuk di tempat pembuangan akhir (TPA) juga berkontribusi terhadap emisi gas metana, salah satu gas rumah kaca yang memperparah perubahan iklim. Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi upaya penguatan ketahanan pangan dan pengurangan dampak lingkungan.
Edible Coating Rumput Laut: Solusi Inovatif Mengatasi Food Waste
Merespons permasalahan tersebut, tim peneliti dari Universitas Indonesia mengembangkan sebuah inovasi pangan yang menjanjikan: edible coating berbahan dasar karagenan dari rumput laut. Lapisan pelapis yang dapat dimakan ini dioleskan tipis pada kulit buah segera setelah panen. Teknologi ini bekerja dengan membentuk barrier fisik yang secara efektif mengurangi laju transpirasi atau penguapan air dari buah, serta menekan proses respirasi yang mempercepat pematangan dan pembusukan. Selain itu, lapisan ini juga mampu menghambat pertumbuhan mikroba penyebab kebusukan. Keunggulan utama dari inovasi ini adalah kesederhanaan prosesnya, biaya produksi yang rendah, serta penggunaan bahan baku lokal yang melimpah di perairan Indonesia, yaitu rumput laut.
Uji coba laboratorium yang telah dilakukan menunjukkan hasil yang menggembirakan. Pada buah manggis, misalnya, aplikasi edible coating berhasil memperpanjang umur simpan hingga 7 hari lebih lama dibandingkan dengan buah tanpa perlakuan. Yang lebih penting, kualitas rasa dan nutrisi buah tetap terjaga selama masa penyimpanan tambahan tersebut. Dengan demikian, inovasi ini tidak hanya mengurangi food waste secara langsung, tetapi juga menjaga nilai ekonomi dan gizi dari produk buah tropis Indonesia.
Dampak Berlapis dan Potensi Replikasi untuk Ketahanan Pangan
Dampak dari penerapan edible coating rumput laut ini sangat berlapis. Dari sisi ekonomi, petani dan pelaku rantai pasok mendapatkan keuntungan karena buah menjadi lebih tahan lama sehingga waktu pemasaran lebih fleksibel dan risiko kerugian akibat buah busuk berkurang. Secara lingkungan, berkurangnya limbah organik di TPA berarti menekan emisi gas metana, yang sejalan dengan upaya mitigasi perubahan iklim. Selain itu, pemanfaatan rumput laut sebagai bahan baku memberi nilai tambah pada budidaya rumput laut lokal, mendorong ekonomi pesisir yang berkelanjutan.
Yang paling menarik, teknologi ini sangat aplikatif dan mudah direplikasi. Dengan skala produksi yang bisa disesuaikan, edible coating dapat diterapkan di tingkat koperasi petani atau unit pengemasan skala kecil dan menengah. Potensi replikasinya sangat besar di sentra-sentra buah di seluruh Indonesia, seperti di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. Dengan mengadopsi inovasi ini, Indonesia tidak hanya memperkuat ketahanan pangan melalui pengurangan kehilangan hasil, tetapi juga mengambil langkah nyata dalam mengurangi jejak karbon dari sektor pertanian. Inovasi rumput laut menjadi edible coating adalah contoh nyata bagaimana teknologi sederhana berbasis sumber daya lokal mampu menjawab tantangan besar pangan dan lingkungan sekaligus.