Permasalahan sampah perkotaan yang terus menumpuk dan ketergantungan pasokan pangan dari daerah luar menjadi tantangan serius bagi kota-kota besar di Indonesia, termasuk Surabaya. Volume sampah yang dikirim ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) setiap hari mencapai ribuan ton, sementara kebutuhan pangan segar bagi warga kota belum sepenuhnya dapat dipenuhi secara lokal. Di tengah krisis lingkungan dan kerentanan pangan ini, muncul sebuah inovasi berbasis komunitas yang mampu menjawab kedua masalah sekaligus. Sebuah Kampung Iklim (Proklim) di Kelurahan tertentu di Surabaya berhasil menciptakan model terintegrasi yang menggabungkan pengelolaan sampah organik dengan pertanian perkotaan (urban farming). Inisiatif ini membuktikan bahwa masyarakat urban dapat menjadi agen perubahan nyata dalam membangun ketahanan pangan perkotaan sekaligus mengurangi beban lingkungan.
Cara Kerja dan Dampak Nyata
Gerakan ini dimulai dari kesadaran warga untuk secara kolektif memilah sampah rumah tangga, terutama sampah dapur organik. Sampah tersebut kemudian diolah menjadi kompos dan biogas skala rumah tangga melalui proses fermentasi sederhana. Kompos yang dihasilkan tidak hanya mengurangi volume sampah yang harus diangkut ke TPA, tetapi juga menjadi pupuk berkualitas tinggi untuk lahan pertanian warga. Urban farming dikembangkan di lahan-lahan terbatas seperti pekarangan rumah, pinggir jalan, hingga atap bangunan. Warga menanam berbagai sayuran seperti kangkung, bayam, dan cabai menggunakan sistem vertikultur atau bedeng horizontal. Hasil panen sebagian dibagikan kepada warga, sebagian lagi dijual dalam skala kecil, sehingga menciptakan siklus ekonomi lokal yang berkelanjutan. Dampak langsungnya, volume sampah yang dibuang ke TPA di lingkungan tersebut berhasil dikurangi hingga 30%.
Potensi Replikasi dan Keberlanjutan
Keberhasilan model kampung iklim ini telah diakui oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai percontohan nasional. Pendekatan berbasis komunitas yang diterapkan sangat inspiratif dan mudah direplikasi di kelurahan-kelurahan lain di perkotaan Indonesia. Dengan dukungan teknis dan pendampingan yang tepat, gerakan serupa dapat berkontribusi signifikan dalam mengurangi beban TPA nasional, meningkatkan ketahanan pangan perkotaan, serta membangun kesadaran lingkungan warga kota. Potensi pengembangannya pun luas—mulai dari diversifikasi jenis tanaman, penggunaan teknologi biogas untuk energi alternatif, hingga penguatan kelembagaan kelompok tani kota. Jika setiap kelurahan di Indonesia mengadopsi model terintegrasi ini, dampak positifnya tidak hanya terasa secara ekologis, tetapi juga secara sosial dan ekonomi bagi masyarakat urban. Inisiatif seperti ini membuktikan bahwa solusi krisis iklim dan pangan bisa dimulai dari langkah kecil di lingkungan tempat tinggal kita sendiri.