Beranda / Solusi Praktis / Kampung Iklim di Surabaya Kurangi Sampah dan Emisi dengan Bi...
Solusi Praktis

Kampung Iklim di Surabaya Kurangi Sampah dan Emisi dengan Biopori dan Bank Sampah

Kampung Iklim di Surabaya Kurangi Sampah dan Emisi dengan Biopori dan Bank Sampah

Kampung Iklim di Surabaya mengatasi masalah sampah dan emisi melalui inovasi biopori, bank sampah, dan urban farming. Program ini berhasil mengurangi volume sampah ke TPA hingga 30%, meningkatkan resapan air, dan memperkuat ketahanan pangan keluarga. Model berbasis komunitas ini telah direplikasi di berbagai kelurahan dan berpotensi diperkuat dengan teknologi sederhana serta dukungan kebijakan kota.

Permukiman padat di perkotaan seperti Surabaya menghadapi tantangan serius: volume sampah yang tinggi, risiko banjir akibat rendahnya resapan air, serta kontribusi signifikan terhadap emisi gas rumah kaca. Masalah ini semakin kompleks karena keterbatasan lahan dan kesadaran masyarakat yang belum merata. Namun, di tengah keterbatasan itu, muncul solusi berbasis komunitas yang terbukti efektif melalui program Kampung Iklim (Proklim). Inisiatif ini memberdayakan warga, khususnya kelompok perempuan, untuk menerapkan aksi adaptasi dan mitigasi iklim secara mandiri dan berkelanjutan.

Inovasi Konkret Warga: Biopori dan Bank Sampah

Di tengah padatnya permukiman, warga Kampung Iklim di Surabaya menerapkan berbagai inovasi sederhana namun berdampak besar. Salah satu aksi utama adalah pembuatan lubang resapan biopori secara massal. Lubang-lubang kecil ini tidak hanya meningkatkan resapan air tanah, mengurangi genangan dan risiko banjir, tetapi juga menjadi tempat penguraian sampah organik yang menghasilkan kompos. Selain itu, pendirian bank sampah menjadi motor pengelolaan sampah rumah tangga. Warga memilah sampah dari sumbernya, menabung sampah yang bernilai ekonomi, dan mengolah sampah organik menjadi kompos. Urban farming pun digalakkan di lahan-lahan sempit, memanfaatkan kompos hasil olahan sendiri untuk menanam sayuran dan tanaman obat keluarga. Pendekatan ini tidak hanya mengatasi masalah sampah dan emisi, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan di tingkat rumah tangga.

Dampak Nyata: Lingkungan, Sosial, dan Ekonomi

Hasil dari aksi kolektif ini sangat signifikan. Volume sampah yang dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) berhasil dikurangi hingga 30%. Kapasitas resapan air tanah meningkat, sehingga risiko banjir di musim hujan berkurang drastis. Dari sisi sosial, program ini mendorong peningkatan peran serta perempuan dalam pengambilan keputusan di tingkat komunitas. Mereka tidak hanya menjadi pelaksana, tetapi juga penggerak utama perubahan. Dampak ekonomi pun terasa: warga memperoleh pemasukan tambahan dari penjualan kompos dan tabungan dari bank sampah. Ketahanan pangan keluarga juga meningkat karena hasil urban farming dapat dikonsumsi sendiri atau dijual. Model Kampung Iklim di Surabaya ini telah direplikasi di berbagai kelurahan dan menjadi contoh baik bagi perkotaan lain di Indonesia. Potensi pengembangannya sangat besar, terutama jika diperkuat dengan teknologi sederhana seperti sensor kelembaban tanah untuk biopori atau aplikasi pencatatan tabungan bank sampah, serta didukung kebijakan kota yang berpihak pada aksi iklim komunitas. Pendekatan berbasis komunitas ini membuktikan bahwa aksi iklim skala kecil yang terintegrasi dapat memberikan dampak kumulatif yang besar, sekaligus menjadi inspirasi bagi kita semua untuk memulai perubahan dari lingkungan terdekat.

Organisasi: Kampung Iklim, Proklim