Surabaya, sebagai kota metropolitan dengan kepadatan penduduk yang tinggi, menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah organik rumah tangga. Sampah jenis ini kerap berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), berkontribusi pada emisi gas metana—penyumbang utama gas rumah kaca—dan membutuhkan biaya transportasi yang besar. Sebagai solusi praktis dan berdampak luas, gerakan kampung iklim atau Proklim di kota ini mengadopsi teknologi biopori massal, mentransformasi permasalahan menjadi sumber daya yang bermanfaat.
Teknologi Biopori: Dari Lubang Resapan Menjadi Reaktor Kompos
Inovasi ini bermula dari pendekatan yang sederhana namun sistematis. Warga secara kolektif membuat lubang resapan biopori di pekarangan rumah dan area publik. Lubang-lubang ini awalnya dikenal untuk meningkatkan resapan air hujan, namun dalam konteks kampung iklim, fungsinya dikembangkan lebih jauh menjadi reaktor kompos bawah tanah. Sampah dapur organik, seperti sisa sayuran dan buah-buahan, tidak lagi dibuang, melainkan dimasukkan langsung ke dalam lubang tersebut. Di dalam tanah, mikroorganisme alami bekerja mengurai material tersebut menjadi kompos yang kaya nutrisi.
Pendekatan kolektif ini menjadi kunci keberhasilan. Inisiatif tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi digerakkan oleh komunitas yang solid dengan dukungan pelatihan dari pemerintah kota dan lembaga swadaya masyarakat. Proses edukasi ini membangun kapasitas warga, mengubah pola pikir dari membuang menjadi mengolah. Hasilnya, volume sampah organik yang harus dibuang keluar dari permukiman dapat berkurang signifikan, mencapai 30-40%. Ini merupakan langkah nyata mitigasi perubahan iklim dari tingkat tapak yang paling dasar.
Dampak Berlapis: Lingkungan, Ekonomi, dan Ketahanan Pangan
Implementasi teknologi biopori di kampung iklim Surabaya menghasilkan dampak positif yang berlapis. Dari aspek lingkungan, selain mengurangi beban TPA dan emisi metana, lubang resapan ini meningkatkan daya serap air tanah, sehingga mengurangi risiko genangan dan banjir di kawasan permukiman padat. Lingkungan kampung pun menjadi lebih bersih dan sehat karena pengelolaan sampah yang lebih tertib.
Dampak ekonomi langsung terasa bagi warga. Kompos yang dihasilkan dapat digunakan untuk memupuk tanaman di pekarangan atau kebun komunitas, sehingga menghemat pengeluaran untuk pembelian pupuk kimia. Secara tidak langsung, beban biaya pengangkutan sampah bagi pemerintah kota juga dapat berkurang. Lebih dari itu, siklus nutrisi yang tertutup secara lokal ini membuka peluang untuk urban farming atau pertanian perkotaan skala rumah tangga, yang berkontribusi pada ketahanan pangan mikro.
Model yang dikembangkan di Surabaya ini sangat aplikatif dan mudah direplikasi. Teknologinya sederhana, biaya pembuatan rendah, dan tidak memerlukan lahan luas, sehingga cocok untuk diterapkan di berbagai komunitas urban lainnya di Indonesia. Kuncinya terletak pada pendekatan berbasis komunitas dan pendampingan yang berkelanjutan untuk membangun kesadaran dan kebiasaan baru.
Ke depan, integrasi kampung iklim dengan biopori ini berpotensi dikembangkan lebih luas. Sistem ini dapat disinergikan dengan program penghijauan kota, budidaya tanaman pangan fungsional, atau bahkan sistem bank sampah untuk mengelola residu non-organik. Dengan demikian, tercipta ekosistem permukiman yang mandiri, hijau, dan tangguh—sebuah jawaban inovatif dari akar rumput untuk menghadapi tantangan iklim dan sampah perkotaan. Inisiatif ini membuktikan bahwa solusi keberlanjutan seringkali dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten dan kolektif.