Di tengah tantangan urbanisasi seperti banjir lokal dan penumpukan limbah domestik, inovasi berbasis komunitas menjadi kunci ketahanan lingkungan. Di Kelurahan Peneleh, Surabaya, masyarakat tidak hanya beradaptasi tetapi juga membangun solusi mandiri melalui Program Kampung Iklim (Proklim) yang terintegrasi. Dengan menggabungkan teknologi sederhana biofiltrasi dan praktik urban farming, mereka menciptakan siklus keberlanjutan yang mengubah masalah menjadi sumber daya, menawarkan model praktis untuk lingkungan perkotaan lainnya.
Sistem Biofiltrasi: Mengolah Air Limbah Menjadi Sumber Daya
Inti dari inovasi ini adalah sistem biofiltrasi yang memanfaatkan kekuatan alami tanaman untuk memurnikan air. Komunitas di Peneleh menggunakan tanaman seperti bambu air dan lidah mertua untuk mengolah greywater atau air limbah domestik dari aktivitas rumah tangga seperti mandi dan cuci. Tanaman-tanaman ini berperan sebagai filter hidup, yang akar dan media tanamnya membantu menyerap dan menguraikan polutan organik. Pendekatan ini tidak memerlukan teknologi rumit atau energi listrik yang besar, sehingga sangat cocok diterapkan oleh komunitas dengan sumber daya terbatas. Air yang telah melalui proses filtrasi ini mengalami peningkatan kualitas signifikan, sehingga aman untuk dialirkan ke tahap berikutnya dalam sistem.
Urban Farming Terintegrasi: Dari Air Bersih ke Ketahanan Pangan
Air hasil olahan sistem biofiltrasi tidak dibuang begitu saja, melainkan dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi utama untuk kebun hidroponik komunitas. Inilah keunggulan model integrated atau terpadu yang diterapkan. Urban farming hidroponik memungkinkan penanaman sayuran seperti kangkung dan selada tanpa bergantung pada lahan tanah yang luas, menjawab tantangan keterbatasan ruang di kawasan perkotaan. Nutrisi dari air olahan mendukung pertumbuhan tanaman dengan baik. Praktik ini bukan sekadar hobi, tetapi kegiatan produktif yang langsung menyentuh aspek ketahanan pangan warga, mengubah pekarangan dan ruang terbatas menjadi food hub yang efisien.
Dampak dari pendekatan solutif ini bersifat multidimensi. Dari sisi lingkungan, volume air limbah yang masuk ke saluran kota dan sungai berkurang, yang berarti penurunan risiko banjir dan peningkatan kualitas air tanah. Lingkungan permukiman menjadi lebih sehat dan asri. Secara sosial-ekonomi, kebun urban farming hidroponik ini mampu menghasilkan rata-rata 50 kilogram sayuran segar setiap bulannya. Hasil panen tidak hanya dikonsumsi oleh anggota komunitas, mengurangi pengeluaran rumah tangga, tetapi juga didistribusikan ke pasar lokal, menciptakan nilai ekonomi sirkular. Inisiatif ini memperkuat kohesi sosial warga karena dikelola secara gotong royong.
Kampung Iklim Mandiri di Peneleh menunjukkan bahwa adaptasi terhadap perubahan iklim dan krisis pangan bisa dimulai dari tingkat komunitas dengan solusi yang aplikatif dan berdampak langsung. Keberhasilan model terpadu biofiltrasi dan urban farming ini membuka potensi besar untuk direplikasi dan disesuaikan di berbagai kondisi urban di Indonesia. Setiap daerah dapat memodifikasi jenis tanaman filtrasi atau sayuran yang ditanam sesuai dengan karakteristik lokal, sumber daya, dan kebutuhannya. Kuncinya terletak pada pendekatan kolaboratif, pemanfaatan pengetahuan lokal, dan integrasi solusi yang melihat satu masalah sebagai peluang untuk menyelesaikan masalah lain.
Kisah dari Surabaya ini mengajarkan bahwa ketahanan sebuah kota tidak selalu dibangun dari proyek-proyek infrastruktur besar, tetapi bisa tumbuh dari inisiatif akar rumput yang cerdas dan terpadu. Dengan mengadopsi prinsip sirkularitas—mengubah limbah menjadi sumber daya—komunitas bukan hanya menjadi lebih mandiri, tetapi juga aktif berkontribusi dalam pembangunan perkotaan yang berkelanjutan. Langkah kecil yang terintegrasi ini, jika dilakukan secara masif, dapat menjadi fondasi kokoh dalam menghadapi tantangan climate change dan ketahanan pangan nasional.