Petani pala di Kawasan Transmigrasi Weri-Saharey, Fakfak, Papua Barat, selama bertahun-tahun menghadapi tantangan serius dalam proses pascapanen. Pengeringan biji pala yang hanya mengandalkan sinar matahari membutuhkan waktu hingga tujuh hari dan sangat bergantung pada cuaca. Ketika hujan turun di tengah proses, biji pala rentan terserang jamur, menurunkan kualitas, dan mengancam pendapatan petani di daerah terpencil. Namun, inovasi teknologi tepat guna yang dikembangkan oleh Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 15 Universitas Hasanuddin kini menghadirkan solusi nyata: sebuah alat pengering hibrida bernama Smart Solar Biomass Dryer. Teknologi ini mengubah tantangan klasik menjadi peluang untuk meningkatkan ketahanan pangan dan keberlanjutan ekonomi di Fakfak.
Mengatasi Tantangan Pascapanen dengan Energi Hibrida dan IoT
Solusi yang ditawarkan adalah perpaduan cerdas antara energi hibrida (surya dan biomassa) dengan sistem kontrol berbasis Internet of Things (IoT). Alat ini memanfaatkan sinar matahari sebagai sumber utama panas, dan ketika intensitasnya menurun—misalnya saat cuaca mendung atau malam hari—secara otomatis beralih ke biomassa seperti kayu bakar atau cangkang pala. Keunggulan utamanya adalah kemampuan menjaga suhu pengeringan tetap konstan di sekitar 60 derajat Celsius dengan kapasitas mencapai 1.000 biji pala per proses. Melalui sensor IoT, petani dapat memantau suhu dan kelembapan langsung dari ponsel mereka, sehingga proses pengeringan berjalan lebih terkendali dan efisien. Hasilnya, waktu pengeringan yang semula tujuh hari berhasil dipangkas drastis menjadi hanya dua hari, tanpa mengorbankan kualitas—bahkan risiko kerusakan akibat jamur hampir sepenuhnya tereliminasi. Inovasi ini membuktikan bahwa teknologi tepat guna berbasis sumber daya lokal mampu memecahkan masalah riil di hilir rantai nilai pertanian.
Dampak Ekonomi, Sosial, dan Potensi Replikasi yang Luas
Dari sisi ekonomi, pengeringan yang lebih cepat dan terkontrol menghasilkan biji pala dengan kualitas seragam dan bersih dari kontaminasi jamur, sehingga meningkatkan nilai jual. Petani di Fakfak kini memiliki kepastian produksi yang lebih tinggi dan dapat menjadwalkan panen dengan lebih baik, mengurangi kerugian pascapanen yang selama ini menghantui. Secara sosial, teknologi ini memberdayakan petani dengan pengetahuan digital dan kemandirian energi, sekaligus memperkuat ketahanan pangan di daerah terpencil. Lebih dari itu, Smart Solar Biomass Dryer memiliki potensi replikasi yang sangat besar untuk komoditas perkebunan lain yang membutuhkan pengeringan serupa, seperti kopi, kakao, atau lada. Pengembangan ke depan dapat difokuskan pada penyederhanaan desain agar bisa diproduksi secara lokal oleh perajin setempat, pelatihan perawatan bagi petani, serta integrasi dengan platform pemasaran digital. Pendekatan adaptif dan berbasis lokal ini menjadi bukti bahwa ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan bukanlah konsep abstrak—ia dapat diwujudkan melalui teknologi tepat guna yang memberdayakan masyarakat dan sekaligus menjaga kelestarian alam.