Beranda / Teknologi Ramah Bumi / KIE Jakarta Summit 2026: Desalinasi Skala Desa dan CSSSF seb...
Teknologi Ramah Bumi

KIE Jakarta Summit 2026: Desalinasi Skala Desa dan CSSSF sebagai Solusi Adaptasi untuk Kelompok Rentan

KIE Jakarta Summit 2026: Desalinasi Skala Desa dan CSSSF sebagai Solusi Adaptasi untuk Kelompok Rentan

KIE Jakarta Summit 2026 menyoroti dua inovasi teknologi adaptasi berbasis lokal untuk kelompok rentan: sistem desalinasi skala desa di Jepara yang mengatasi krisis air bersih, dan teknologi CSSSF di Madura yang terintegrasi menghasilkan garam, rumput laut, air, dan listrik. Solusi ini meningkatkan ketahanan ekonomi dan lingkungan masyarakat pesisir dengan pendekatan mandiri dan berkelanjutan. Potensi replikasinya luas, terutama dengan integrasi program perlindungan sosial untuk mewujudkan adaptasi iklim yang berkeadilan.

Forum internasional Knowledge and Innovation Exchange (KIE) Jakarta Summit 2026 menempatkan isu adaptasi iklim bagi kelompok rentan di garis terdepan diskusi. Kesenjangan yang terjadi sangat nyata: komunitas pesisir, nelayan, petambak garam, dan perempuan sering kali menjadi pihak yang paling terdampak oleh intrusi air laut, kekeringan, dan cuaca ekstrem, namun justru memiliki akses terbatas terhadap solusi adaptasi yang memadai. KIE Jakarta Summit merespons realitas ini dengan mempromosikan teknologi berbasis lokal yang tidak hanya mampu mengatasi tantangan spesifik di lapangan tetapi juga memberdayakan komunitas secara ekonomi dan sosial.

Inovasi Desalinasi Skala Desa: Menjawab Krisis Air Bersih di Pesisir

Salah satu solusi konkret yang diangkat adalah sistem desalinasi skala kecil berbasis desa, yang dikembangkan di Jepara melalui kolaborasi Universitas Diponegoro (UNDIP) dan Australian National University. Inovasi ini dirancang khusus untuk mengatasi persoalan mendasar di wilayah pesisir, yaitu kelangkaan air bersih akibat intrusi air laut. Berbeda dengan instalasi desalinasi berskala besar yang padat modal dan energi, teknologi ini dikembangkan untuk konteks lokal dengan biaya operasional yang lebih terjangkau dan ramah lingkungan. Sistem ini menyaring air laut menjadi air layak konsumsi dengan memanfaatkan energi terbarukan, menjawab langsung kebutuhan harian kelompok rentan di garis pantai yang selama ini bergantung pada pasokan air dengan kualitas buruk atau harga tinggi.

Dampak yang dihasilkan melampaui sekadar penyediaan air bersih. Dengan terpenuhinya kebutuhan dasar ini, tekanan ekonomi pada rumah tangga berkurang karena tidak perlu lagi mengalokasikan dana besar untuk membeli air. Lebih jauh, ketersediaan air bersih yang stabil mendukung kegiatan produktif lainnya, seperti pertanian skala kecil atau peternakan, yang pada akhirnya meningkatkan ketahanan ekonomi keluarga. Pendekatan berbasis desa ini juga membuka peluang pengelolaan dan pemeliharaan sistem oleh masyarakat setempat, menciptakan lapangan kerja baru dan menguatkan kapasitas lokal dalam menghadapi perubahan iklim.

CSSSF di Madura: Simbiosis Industri yang Menghasilkan Pangan, Air, dan Energi

Contoh lain yang menunjukkan keampuhan solusi terintegrasi adalah teknologi CSSSF (Concentrated Solar Still and Salt Farm) yang sukses diterapkan di Madura. Inovasi ini merupakan terobosan dalam memadukan beberapa sistem produksi menjadi satu siklus yang saling menguntungkan dan mandiri. Teknologi CSSSF pada dasarnya memanfaatkan panas matahari untuk memproduksi garam secara tradisional, namun dengan modifikasi yang cerdas, ia juga menghasilkan output tambahan yang sangat berharga: air tawar dan listrik. Proses penguapan air laut dalam tambak garam dimanfaatkan untuk menghasilkan kondensat yang menjadi sumber air minum, sementara panel surya terintegrasi menyediakan energi listrik.

Dampak dari integrasi ini bersifat multi-dimensi. Dari sisi lingkungan, teknologi ini memaksimalkan penggunaan sumber daya matahari dan air laut tanpa menghasilkan limbah beracun, sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil untuk pembuatan garam atau penyediaan listrik. Dari sisi ekonomi, para petambak garam—yang sering termasuk dalam kelompok rentan dengan pendapatan tidak menentu—kini memiliki diversifikasi produk. Mereka tidak hanya menjual garam, tetapi juga bisa memanen rumput laut di area tertentu, memiliki akses terhadap air minum, dan listrik untuk mendukung aktivitas rumah tangga atau usaha mikro. Hal ini secara signifikan meningkatkan nilai tambah dan ketahanan pendapatan keluarga di kawasan pesisir.

Potensi Pengembangan dan Replikasi kedua inovasi ini sangat besar. Kunci keberhasilannya terletak pada pendekatan yang kontekstual, berbasis komunitas, dan mengintegrasikan solusi untuk berbagai masalah sekaligus (air-energi-pangan). Untuk memperluas dampaknya, integrasi dengan program perlindungan sosial pemerintah menjadi langkah strategis. Misalnya, program bantuan sosial atau pelatihan kewirausahaan dapat diarahkan untuk mendukung adopsi teknologi seperti desalinasi skala desa atau CSSSF. Dengan demikian, upaya adaptasi iklim tidak hanya menjadi proyek fisik, tetapi juga instrumen untuk pemerataan dan keadilan, memastikan bahwa transisi menuju net-zero emission benar-benar inklusif dan tidak meninggalkan siapa pun, terutama mereka yang paling rentan.

KIE Jakarta Summit 2026 mengingatkan kita bahwa masa depan ketahanan iklim Indonesia dibangun dari solusi-solusi nyata di tingkat tapak. Inovasi seperti desalinasi skala desa dan teknologi CSSSF adalah bukti bahwa dengan pendekatan yang tepat, tantangan perubahan iklim dapat diubah menjadi peluang untuk membangun kemandirian, kesejahteraan, dan keberlanjutan yang berakar pada kekuatan lokal. Hal ini mendorong kita untuk terus mendukung, mereplikasi, dan menskalakan solusi berbasis teknologi dan komunitas sebagai langkah konkret menuju ketahanan yang lebih adil dan tangguh.

Organisasi: Knowledge and Innovation Exchange (KIE), UNDIP, Australian National University