Beranda / Ekologi Terapan/Inovasi Hayati / Komunitas Adat di Kalimantan Barat Kembalikan Fungsi Ekosist...
Ekologi Terapan/Inovasi Hayati

Komunitas Adat di Kalimantan Barat Kembalikan Fungsi Ekosistem Gambut dengan Penanaman Jelutung

Komunitas Adat di Kalimantan Barat Kembalikan Fungsi Ekosistem Gambut dengan Penanaman Jelutung

Komunitas adat di Kalimantan Barat berhasil memulihkan fungsi ekosistem gambut yang terdegradasi melalui penanaman jelutung, pohon asli yang menjaga muka air dan mengurangi emisi karbon. Inovasi ini tidak hanya mengembalikan peran gambut sebagai penyerap karbon alami, tetapi juga memberikan sumber pendapatan berkelanjutan bagi masyarakat dari getah jelutung. Model restorasi berbasis kearifan lokal ini menawarkan solusi strategis yang dapat direplikasi di lahan gambut terdegradasi lainnya.

Degradasi lahan gambut di Kalimantan Barat akibat kebakaran hutan dan konversi massal untuk perkebunan monokultur telah menjadi ancaman serius bagi ekosistem dan iklim global. Lahan gambut yang terdegradasi ini melepaskan emisi karbon dalam jumlah besar, mengancam keanekaragaman hayati, serta menghilangkan sumber penghidupan masyarakat lokal. Namun, di tengah krisis ini, sebuah komunitas adat di Kapuas Hulu membuktikan bahwa solusi berbasis alam mampu memulihkan fungsi ekologis gambut sekaligus menciptakan nilai ekonomi jangka panjang. Inovasi ini menjadi titik terang dalam upaya restorasi ekosistem yang kritis.

Jelutung: Pohon Multifungsi untuk Restorasi Gambut

Alih-alih mengandalkan restorasi pasif atau penanaman monokultur yang kerap gagal, komunitas adat ini memilih pendekatan berbasis kearifan lokal dan ilmu ekologi. Mereka menanam jelutung rawa (Dyera polyphylla), spesies pohon asli yang secara alami tumbuh di ekosistem gambut. Melalui sistem agroforestri, jelutung ditanam bersama tumbuhan gambut alami lainnya, menciptakan lanskap yang lebih beragam dan tangguh. Akar pohon jelutung yang dalam berperan krusial dalam menjaga ketinggian muka air gambut, sehingga mengurangi risiko kebakaran dan memperlambat pelepasan karbon. Inovasi ini menjadi contoh nyata bagaimana restorasi dapat berjalan selaras dengan kebutuhan ekonomi masyarakat.

Dampak Ekologis dan Ekonomi yang Berkelanjutan

Dampak ekologis dari penanaman jelutung sangat signifikan. Pemulihan tutupan vegetasi gambut tidak hanya meningkatkan cadangan karbon di atas dan di bawah tanah, tetapi juga menurunkan risiko kebakaran yang kerap melanda lahan gambut kering. Dari sisi sosial-ekonomi, jelutung menghasilkan getah (lateks) yang dapat dipanen secara berkelanjutan setelah 7–8 tahun. Getah ini menjadi bahan baku industri permen karet dan berbagai produk turunan lainnya. Dengan demikian, komunitas adat mendapatkan sumber pendapatan jangka panjang yang tidak merusak lingkungan, sebuah alternatif berkelanjutan di tengah dominasi perkebunan monokultur sawit atau akasia yang rentan terhadap kebakaran.

Model restorasi gambut berbasis jelutung ini menawarkan potensi replikasi yang luas. Dengan jutaan hektare lahan gambut terdegradasi di Sumatra dan Kalimantan, pendekatan yang menggabungkan pemulihan ekologi dan pemberdayaan komunitas adat dapat menjadi solusi strategis untuk mengatasi krisis iklim dan ketahanan pangan. Tidak hanya mengembalikan fungsi gambut sebagai penyerap karbon alami, tetapi juga memperkuat kemandirian ekonomi lokal. Inisiatif ini membuktikan bahwa solusi berbasis alam yang partisipatif mampu menciptakan dampak berlipat: menyelamatkan lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ini adalah pelajaran berharga bahwa keberlanjutan sejati lahir dari harmoni antara manusia dan alam.