Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) menghadapi tantangan serius dalam hal ketersediaan air, terutama saat musim kemarau. Beberapa lahan pertanian di kawasan tersebut bahkan mengalami gagal panen sebelum waktunya akibat kekeringan. Menjawab persoalan ini, Otorita IKN mengadopsi konsep Sponge City atau Kota Spons, sebuah pendekatan pengelolaan air terpadu yang tidak hanya mengandalkan infrastruktur besar, tetapi juga perubahan perilaku hemat air di tingkat rumah tangga.
Strategi Makro: Embung sebagai Tulang Punggung Konservasi Air
Pada tingkat makro, solusi utama yang diterapkan adalah pembangunan dan penambahan jumlah embung menjadi 56 unit. Embung-embung ini berfungsi menampung air hujan dan limpasan permukaan, dengan tambahan kapasitas sekitar dua juta meter kubik. Lebih dari sekadar penampung air, embung dirancang sebagai infrastruktur multifungsi: pengendali banjir, pembentuk iklim mikro, dan potensi pengembangan ekowisata. Pendekatan ini merupakan wujud nyata dari konservasi air yang terintegrasi dengan tata ruang kota.
Pendekatan Mikro: Hemat Air dari Rumah Tangga
Di tingkat mikro, masyarakat didorong untuk memanfaatkan kembali air bekas pakai atau greywater, misalnya air cucian piring tanpa sabun untuk menyiram tanaman. Langkah sederhana ini menjadi bagian penting dari ekosistem Sponge City di IKN, yang menekankan bahwa ketahanan air tidak hanya dibangun oleh pemerintah, tetapi juga partisipasi aktif warga. Kombinasi antara infrastruktur makro dan perubahan perilaku mikro inilah yang membuat konsep ini berbeda dan aplikatif.
Dampak dari penerapan konsep ini sangat luas. Secara lingkungan, sistem penampungan air hujan di embung mampu menjamin ketersediaan air sepanjang tahun, bahkan saat kemarau panjang. Secara ekonomi, lahan pertanian yang semula rawan gagal panen kini memiliki pasokan air yang lebih stabil, sehingga produktivitas meningkat. Secara sosial, terbangun kesadaran kolektif akan pentingnya mengelola air sebagai sumber daya bersama. Pendekatan holistik Sponge City menjadi bukti bahwa solusi perubahan iklim bisa dimulai dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Potensi replikasi konsep ini sangat besar. Banyak kota di Indonesia yang menghadapi masalah serupa – banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau. Dengan adaptasi terhadap kondisi lokal, prinsip Sponge City seperti pembangunan embung, pemanfaatan greywater, dan pengelolaan limpasan dapat diterapkan di daerah perkotaan maupun perdesaan. IKN berpeluang menjadi laboratorium hidup bagi pengelolaan air terpadu yang tangguh dan berkelanjutan. Keberhasilan model ini akan menjadi inspirasi bagi kota-kota lain untuk bertransformasi menuju masa depan yang lebih hijau dan tahan iklim.