Beranda / Ketahanan Pangan / Padi Biosalin BRIN-PGN Capai Produksi 176 Ton di Lahan Pesis...
Ketahanan Pangan

Padi Biosalin BRIN-PGN Capai Produksi 176 Ton di Lahan Pesisir Jepara

Padi Biosalin BRIN-PGN Capai Produksi 176 Ton di Lahan Pesisir Jepara

Inovasi padi biosalin di Jepara berhasil mengubah lahan pesisir yang terancam intrusi garam menjadi area produktif dengan panen 176 ton gabah. Solusi kemitraan BRIN-PGN-Pemda ini membuktikan bahwa adaptasi iklim berbasis teknologi tepat guna dapat meningkatkan ketahanan pangan dan kesejahteraan petani. Model ini memiliki potensi besar untuk direplikasi di berbagai wilayah pesisir Indonesia sebagai strategi mengamankan lumbung pangan nasional.

Degradasi lahan pesisir akibat intrusi air laut dan banjir rob telah lama menjadi mimpi buruk bagi petani di pesisir utara Jawa, termasuk Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Lahan yang semula subur perlahan berubah menjadi marginal dengan salinitas tinggi, menyebabkan gagal panen berulang dan mengancam ketahanan pangan lokal. Ancaman ini kian nyata seiring dengan dampak perubahan iklim yang meningkatkan frekuensi dan intensitas bencana terkait air laut. Namun, dari tantangan berat ini, lahir sebuah inovasi solutif yang tidak hanya mengatasi masalah, tetapi juga membalikkan keadaan: budidaya padi varietas biosalin.

Inovasi Biosalin: Mengubah Ancaman Garam Menjadi Peluang Panen

Sebagai respons konkret, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama PT PGN dan Pemerintah Daerah Jepara mengembangkan dan menerapkan budidaya padi varietas biosalin yang secara genetik tahan terhadap kadar garam tinggi. Inovasi ini bukan sekadar teori, tetapi telah diuji di lapangan seluas 22 hektare—melampaui target awal 20 hektare. Pendekatan kemitraan tripartit antara lembaga riset, BUMN, dan pemerintah daerah ini menjadi kunci sukses, memadukan keahlian teknis, pendanaan, dan dukungan kebijakan. Cara kerjanya berpusat pada pemilihan varietas unggul yang mampu beradaptasi dengan kondisi salin, dikombinasikan dengan teknik budidaya yang tepat.

Hasilnya sungguh menggembirakan. Varietas padi biosalin ini menunjukkan produktivitas antara 7 hingga 9 ton gabah kering panen per hektare, dengan masa tanam yang relatif singkat, yaitu 84 hingga 107 hari. Dari total luas lahan tersebut, diperoleh panen sebanyak 176 ton gabah dengan nilai ekonomi sekitar Rp1,23 miliar. Keberhasilan ini membuktikan bahwa lahan-lahan marginal pesisir yang selama ini dianggap tidak produktif ternyata masih memiliki potensi besar untuk dikelola sebagai lumbung pangan, asalkan menggunakan teknologi dan varietas yang tepat. Selain tahan garam, varietas ini juga dilaporkan memiliki ketahanan yang baik terhadap serangan hama dan penyakit, mengurangi ketergantungan pada pestisida.

Dampak Nyata dan Potensi Replikasi untuk Ketahanan Pangan Nasional

Dampak dari keberhasilan ini bersifat multidimensional. Secara ekonomi, petani di Jepara kembali mendapatkan penghasilan dan kepercayaan diri untuk bertani di lahan mereka sendiri. Secara sosial, hal ini memperkuat ketahanan komunitas pesisir dalam menghadapi tekanan adaptasi iklim. Yang terpenting, dari perspektif lingkungan dan keberlanjutan, inovasi ini adalah bentuk adaptasi berbasis ekosistem yang memanfaatkan lahan sesuai dengan kondisinya, alih-alih melawan alam dengan upaya reklamasi atau drainase yang mahal dan berisiko.

Potensi replikasi model ini sangat besar. Banyak wilayah pesisir Indonesia, seperti pantai utara Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi, menghadapi tantangan serupa berupa intrusi air laut dan salinisasi lahan. Model kemitraan BRIN-PGN-Pemda bisa diadopsi dan dimodifikasi sesuai konteks lokal sebagai bagian dari strategi nasional ketahanan pangan. Dengan mengembangkan koridor pangan di daerah pesisir yang rentan, kita tidak hanya mengamankan pasokan, tetapi juga menciptakan benteng pertahanan pangan dari ancaman kenaikan muka air laut. Inovasi padi biosalin mengajarkan bahwa solusi untuk tantangan terberat seringkali datang dari memahami dan beradaptasi dengan lingkungan, bukan melawannya.

Organisasi: Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), PT PGN, Pemerintah Daerah