Beranda / Ketahanan Pangan / Petani di Indramayu Beralih ke Varietas Padi Tahan Kekeringa...
Ketahanan Pangan

Petani di Indramayu Beralih ke Varietas Padi Tahan Kekeringan Hasil Riset BRIN

Petani di Indramayu Beralih ke Varietas Padi Tahan Kekeringan Hasil Riset BRIN

BRIN meluncurkan varietas padi Inpari 55 yang tahan kekeringan dan hama wereng, telah diuji oleh 200 petani di Indramayu dengan hasil panen 5,5 ton per hektar meski irigasi berkurang 40%. Inovasi ini menjadi solusi adaptasi iklim bagi petani di lahan terbatas air, dan ditargetkan diperluas hingga 10.000 hektar di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Padi tahan kekeringan ini membuktikan bahwa riset dapat menjembatani krisis air dengan ketahanan pangan.

Perubahan iklim yang nyata dirasakan para petani di Indonesia, khususnya di daerah sentra padi seperti Indramayu, Jawa Barat. Musim kemarau yang lebih panjang dan pasokan air irigasi yang semakin terbatas menjadi ancaman serius bagi produktivitas padi. Namun, di tengah tantangan tersebut, hadir solusi inovatif berupa padi tahan kekeringan hasil riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Varietas unggul bernama Inpari 55 ini menjadi andalan baru bagi petani untuk tetap bisa panen meski dalam kondisi kekurangan air.

Inpari 55: Padi Unggul Tahan Kekeringan dan Hama

BRIN meluncurkan varietas padi Inpari 55 yang dirancang khusus untuk tumbuh optimal dengan irigasi terbatas. Di Indramayu, sebanyak 200 petani telah menerapkan varietas ini pada musim kemarau 2026. Hasilnya menggembirakan: rata-rata panen mencapai 5,5 ton per hektar, hanya turun 10% dibandingkan musim hujan. Padahal, pasokan air irigasi berkurang hingga 40%. Lebih dari itu, Inpari 55 juga tahan terhadap serangan hama wereng, yang sering menjadi momok bagi petani. Inovasi ini merupakan wujud nyata adaptasi iklim yang aplikatif dan berkelanjutan.

Cara kerja varietas ini tidak hanya terletak pada ketahanan fisik terhadap kekeringan, tetapi juga efisiensi penggunaan air. Perakitan genetik yang dilakukan oleh periset BRIN memungkinkan akar padi menyerap air lebih dalam dan memanfaatkan air yang ada secara maksimal. Petani tidak perlu mengubah drastis metode budidaya; mereka cukup mengganti bibit dengan Inpari 55 dan tetap menerapkan pola tanam biasa. Pendekatan ini membuat adopsi teknologi berjalan cepat karena tidak memerlukan investasi tambahan yang besar.

Dampak Nyata dan Potensi Replikasi

Dari segi ekonomi, penurunan hasil panen yang hanya 10% di tengah keterbatasan air 40% menunjukkan efisiensi luar biasa. Petani di Indramayu masih bisa memperoleh pendapatan stabil, sementara biaya irigasi dan risiko gagal panen berkurang signifikan. Dampak sosialnya pun positif: petani tidak perlu pindah profesi atau merantau saat kemarau tiba, ketahanan pangan lokal tetap terjaga. BRIN pun menargetkan penyebaran varietas ini ke lahan seluas 10.000 hektar di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada musim tanam berikutnya. Potensi replikasi sangat besar, terutama di daerah-daerah rawan kekeringan di Nusa Tenggara dan Sumatra.

Ke depannya, kerja sama antara pemerintah, peneliti, dan petani menjadi kunci keberhasilan. Dukungan penyuluhan dan distribusi benih secara merata akan mempercepat adaptasi iklim di sektor pertanian. Inpari 55 bukanlah sekadar varietas biasa, melainkan bukti bahwa riset dan inovasi mampu menjawab tantangan krisis pangan akibat perubahan iklim. Petani Indonesia kini punya senjata baru untuk menjaga produktivitas tanpa harus bergantung sepenuhnya pada hujan atau irigasi besar-besaran. Inilah langkah konkret menuju pertanian yang tangguh dan berkelanjutan.

Organisasi: BRIN