Beranda / Ketahanan Pangan / Petani Grobogan Terapkan Metode AWD Tekan Emisi Metana dan N...
Ketahanan Pangan

Petani Grobogan Terapkan Metode AWD Tekan Emisi Metana dan Naikkan Hasil Panen

Petani Grobogan Terapkan Metode AWD Tekan Emisi Metana dan Naikkan Hasil Panen

Petani di Grobogan menerapkan metode pengairan AWD yang menekan emisi metana dan mengurangi penggunaan air sepertiga, sekaligus meningkatkan hasil panen dari 6-7 ton/ha menjadi 8-9 ton/ha. Inovasi ini, yang digagas oleh Temasek Life Sciences Laboratory, terbukti efektif di Indonesia, India, dan Laos, serta berpotensi dikembangkan dengan skema kredit karbon untuk memberi insentif tambahan bagi petani. Pendekatan berbasis manfaat langsung menjadi kunci adopsi teknologi ramah lingkungan di sektor pertanian.

Pertanian padi konvensional selama ini menjadi salah satu penyumbang utama emisi metana (CH4) akibat genangan air yang terus-menerus di sawah. Praktik ini tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga boros dalam penggunaan air. Di tengah krisis iklim dan ancaman ketahanan pangan, inovasi pengairan yang lebih efisien menjadi kebutuhan mendesak. Di Grobogan, Jawa Tengah, sekitar 170 petani berpartisipasi dalam uji coba skala besar yang diprakarsai oleh Temasek Life Sciences Laboratory (TLL) Singapura untuk mengatasi masalah ini.

Metode AWD: Solusi Pengairan yang Ramah Lingkungan dan Meningkatkan Produktivitas

Inovasi utama dalam uji coba ini adalah metode pengairan Basah Kering Berganti atau Alternate Wetting and Drying (AWD). Metode ini mempersingkat durasi kondisi minim oksigen dalam sawah, yang secara drastis mengurangi produksi metana oleh bakteri anaerobik. Selain AWD, para petani juga menerapkan varietas padi tahan cuaca dan campuran pupuk baru yang lebih efisien. Kombinasi ini tidak hanya menekan emisi gas rumah kaca, tetapi juga meningkatkan hasil panen secara signifikan.

Para petani melaporkan peningkatan hasil panen dari biasanya 6–7 ton per hektare menjadi 8–9 ton per hektare. Selain itu, kebutuhan air dan pupuk berkurang, sehingga biaya produksi pun ikut turun. Dampak lingkungan yang terukur adalah pengurangan emisi metana dan penggunaan air sebesar sekitar sepertiga di lokasi uji coba. Inovasi ini telah menunjukkan hasil positif tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di India dan Laos, membuktikan potensi replikasinya di berbagai negara penghasil padi.

Potensi Pengembangan: Kredit Karbon dan Irigasi Tetes

Ke depan, metode AWD berpotensi diintegrasikan dengan skema kredit karbon untuk memberikan insentif tambahan bagi petani. Selain itu, eksplorasi metode irigasi tetes yang lebih efisien juga tengah dikaji, meskipun saat ini masih tergolong mahal. Pendekatan berbasis manfaat langsung—seperti peningkatan hasil panen dan penghematan biaya—menjadi kunci keberhasilan adopsi teknologi ramah lingkungan di tingkat petani. Dengan adopsi yang lebih luas, inovasi ini dapat menjadi solusi nyata dalam mengurangi emisi sektor pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan di Indonesia dan negara-negara lain.

Organisasi: Temasek Life Sciences Laboratory, TLL