Di Nusa Tenggara Timur (NTT), ancaman kepunahan varietas pangan lokal semakin nyata akibat perubahan iklim dan pergeseran preferensi petani menuju benih komersial. Padahal, varietas tradisional seperti jewawut, sorgum, beras merah gunung, dan aneka kacang-kacangan lokal memiliki keunggulan adaptif terhadap kondisi kering serta kandungan gizi yang lebih baik. Tanpa upaya konservasi yang sistematis, kekayaan genetik ini bisa hilang sebelum dimanfaatkan secara optimal. Namun, di tengah tantangan tersebut, muncul solusi berbasis komunitas yang inovatif: program bank benih yang dikelola oleh kelompok tani, terutama perempuan, sebagai garda terdepan dalam menjaga keanekaragaman hayati dan memperkuat ketahanan pangan lokal.
Bank Benih Komunitas: Inovasi Konservasi yang Memberdayakan Petani
Untuk menjawab krisis tersebut, sejumlah LSM bersama kelompok tani perempuan di NTT telah mendirikan 20 bank benih komunitas yang tersebar di berbagai kabupaten. Bank benih ini bukan sekadar tempat penyimpanan benih, melainkan repositori hidup yang aktif mengoleksi, memperbanyak, dan mendistribusikan kembali benih-benih pangan lokal. Pendekatan ini merupakan solusi berbasis komunitas yang memberdayakan petani untuk menjadi penjaga keanekaragaman hayati sekaligus aktor utama dalam adaptasi iklim. Cara kerjanya sederhana namun efektif: petani menyimpan benih, melakukan uji coba penanaman untuk memastikan viabilitas dan adaptabilitasnya terhadap kondisi tanah setempat. Benih yang terbukti tahan kekeringan dan berperforma baik kemudian diperbanyak dan dibagikan kepada anggota komunitas. Model ini juga mendorong pertukaran benih antarkelompok, sehingga memperkaya keragaman genetik yang tersimpan. Dengan demikian, petani tidak lagi bergantung pada benih komersial yang harus dibeli setiap musim tanam, melainkan memiliki akses mandiri terhadap benih yang selaras dengan ekosistem lokal.
Dampak Nyata dan Potensi Replikasi
Hingga akhir tahun 2025, program bank benih komunitas ini berhasil menyelamatkan lebih dari 150 varietas pangan lokal dari kepunahan. Dampaknya tidak hanya terasa pada aspek konservasi, tetapi juga pada ketahanan pangan dan ekonomi petani. Benih lokal yang adaptif mengurangi risiko gagal panen akibat cuaca ekstrem, sementara berkurangnya ketergantungan pada input kimia dan benih komersial memberikan manfaat ekonomi langsung bagi rumah tangga petani. Lebih dari itu, keanekaragaman hayati yang terjaga menjadi asuransi alami terhadap perubahan lingkungan yang tidak menentu, memperkuat kapasitas adaptasi iklim komunitas secara keseluruhan di NTT.
Model ini merupakan solusi berbiaya rendah namun berdampak tinggi, sehingga sangat mudah direplikasi di daerah lain dengan kekayaan pangan lokal seperti Papua, Maluku, atau Sulawesi. Potensi pengembangannya juga terbuka lebar, misalnya melalui pendokumentasian sifat unggul setiap varietas untuk keperluan pemuliaan, pengembangan produk pangan olahan berbahan baku lokal guna meningkatkan nilai ekonomi, serta integrasi dengan program sekolah sebagai media edukasi biodiversitas bagi generasi muda. Inisiatif bank benih komunitas di NTT menjadi bukti bahwa inovasi sederhana yang berakar pada kearifan lokal mampu menjadi pilar utama dalam menjaga ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan di tengah krisis iklim.