Pulau Sumba, yang dikenal dengan lanskap kering dan minim akses listrik, selama ini menjadi salah satu wilayah paling tertinggal di Nusa Tenggara Timur. Ketergantungan pada genset berbahan bakar solar membuat biaya energi sangat mahal, sementara pertanian—sektor utama warga—seringkali gagal akibat kurangnya irigasi. Namun, sebuah inovasi kini mengubah wajah desa-desa di sana melalui program desa mandiri energi berbasis PLTS atap.
Inovasi PLTS Atap: dari Penerangan hingga Irigasi
Program ini berhasil memasang panel surya atap di 1.000 rumah tangga dengan kapasitas total 5 megawatt. Didanai oleh CSR perusahaan swasta dan Kementerian ESDM, proyek ini tidak hanya menghadirkan penerangan murah, tetapi juga memanfaatkan kelebihan listrik untuk menggerakkan pompa irigasi tetes ke ladang jagung dan kacang-kacangan. Sebelumnya, petani hanya bisa menanam sekali setahun akibat kekeringan; kini mereka mampu menanam dua kali setahun dengan peningkatan hasil panen mencapai 80 persen. Inilah bukti nyata bahwa energi mandiri dari PLTS atap mampu mendorong ketahanan pangan sekaligus kemandirian ekonomi desa.
Dampak Lingkungan dan Sosial yang Signifikan
Dari sisi lingkungan, penggunaan panel surya menggantikan genset solar menghemat sekitar 200.000 liter bahan bakar per tahun, mengurangi emisi karbon secara langsung. Sementara itu, lampu tenaga surya di setiap rumah memperpanjang waktu belajar anak-anak hingga malam hari, membuka akses pendidikan yang lebih baik bagi generasi muda Sumba. Dampak sosial-ekonomi ini menunjukkan bahwa solusi berbasis energi terbarukan tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.
Potensi Replikasi ke Seluruh NTT
Kesuksesan program Desa Mandiri Energi di Sumba menjadi model yang akan direplikasi di 20 desa lain di Nusa Tenggara Timur pada tahun 2027. Dengan kondisi geografis serupa yang sering kekeringan dan minim listrik, pendekatan integrasi PLTS atap untuk irigasi dan penerangan bisa menjadi solusi terukur untuk menghadapi krisis iklim dan pangan. Inovasi ini menginspirasi bahwa kemandirian energi bukanlah mimpi, melainkan langkah nyata menuju desa yang tangguh, produktif, dan berkelanjutan.