Di Kalimantan Tengah, kebakaran lahan gambut telah menjadi ancaman tahunan yang tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat dan perekonomian lokal. Ketika lahan gambut kering, lapisan organik yang kaya akan karbon mudah terbakar, melepaskan emisi gas rumah kaca dalam jumlah masif dan menimbulkan kabut asap yang berbahaya. Menyadari siklus destruktif ini, komunitas di sekitar Desa Mantangai berinisiatif melakukan restorasi gambut berbasis komunitas — sebuah pendekatan yang mengubah paradigma dari konservasi pasif menjadi aksi nyata yang mengintegrasikan pemulihan ekologi dengan peningkatan ekonomi lokal. Inovasi ini menjadi bukti bahwa restorasi gambut tidak hanya menekan emisi karbon, tetapi juga memberdayakan komunitas secara berkelanjutan.
Langkah Awal: Sekat Kanal untuk Membasahi Kembali Gambut
Kunci program ini adalah pembangunan sekat kanal sederhana (canal blocking) yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat dengan dukungan NGO lokal. Sekat-sekat tersebut berfungsi mengembalikan tata air alami di lahan gambut yang sebelumnya dikeringkan oleh kanal-kanal ilegal. Dengan membasahi kembali gambut, lapisan organik tetap lembab sehingga risiko kebakaran di musim kemarau menurun drastis. Pendekatan ini tidak hanya mencegah pelepasan karbon akibat kebakaran, tetapi juga mempertahankan fungsi gambut sebagai penyerap dan penyimpan karbon alami. Hasilnya, jumlah titik panas (hotspot) di area intervensi menunjukkan penurunan signifikan, membuktikan bahwa teknik kemasyarakatan ini efektif dalam mitigasi perubahan iklim. Inovasi ini menunjukkan bahwa restorasi gambut dapat dimulai dari skala komunitas dengan biaya yang relatif rendah namun berdampak besar.
Agroforestri: Solusi Ekonomi yang Ramah Gambut
Restorasi tidak berhenti pada aspek hidrologi. Masyarakat setempat mengembangkan sistem agroforestri atau wanatani di lahan yang tidak terbakar. Mereka menanam tanaman bernilai ekonomi tinggi seperti jelutung (penghasil lateks), tengkawang, dan aneka buah-buahan lokal di sela-sela vegetasi asli. Pemilihan jenis tanaman ini sangat strategis: jelutung dan tengkawang merupakan produk hasil hutan bukan kayu yang memiliki pasar stabil, sementara buah-buahan lokal memperkuat ketahanan pangan rumah tangga. Sistem agroforestri ini tidak memerlukan pembukaan lahan dengan cara membakar, sehingga tidak merusak struktur gambut dan menjaga ekosistem tetap utuh. Dengan demikian, komunitas memperoleh sumber pendapatan alternatif yang berkelanjutan, mengurangi ketergantungan pada praktik pertanian yang memicu kebakaran. Dampak ekonomi pun mulai terasa — penjualan hasil hutan bukan kayu dari sistem agroforestri menciptakan sumber pendapatan baru yang tidak merusak gambut. Masyarakat tidak hanya menjadi penjaga ekosistem, tetapi juga pelaku ekonomi yang aktif dalam rantai nilai produk ramah lingkungan. Program ini berhasil mengubah ancaman kebakaran dan emisi karbon menjadi peluang ekonomi berbasis kearifan lokal.
Model restorasi gambut berbasis komunitas di Kalimantan Tengah ini membuka jalan bagi replikasi di daerah rawan gambut lainnya. Dengan pendekatan yang sederhana namun terpadu — mulai dari pembasahan gambut melalui sekat kanal hingga pengembangan agroforestri produktif — masyarakat mampu memutus siklus kebakaran tahunan sambil meningkatkan kesejahteraan. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa solusi perubahan iklim tidak selalu harus berskala besar dan mahal. Justru, keterlibatan aktif masyarakat lokal yang memahami ekosistem mereka adalah kunci utama dalam menciptakan dampak jangka panjang. Inisiatif seperti ini patut diduplikasi dan didukung oleh kebijakan pemerintah maupun investasi hijau, karena tidak hanya menekan emisi karbon, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi komunitas secara berkelanjutan.