Pencemaran mikroplastik telah menjadi salah satu ancaman terbesar bagi ekosistem laut dan ketahanan pangan global. Partikel-partikel kecil ini tidak hanya mencemari lautan, tetapi juga masuk ke dalam rantai makanan manusia melalui ikan dan biota laut lainnya. Menyikapi kondisi tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah mengambil langkah inovatif dengan mengidentifikasi jamur endofit yang mampu mengurai mikroplastik hingga 80 persen. Temuan yang dipublikasikan pada Maret 2026 ini membuka harapan baru dalam upaya bioremediasi pencemaran laut.
Inovasi BRIN: Jamur Endofit sebagai Solusi Bioremediasi
Para peneliti BRIN menemukan bahwa jamur endofit yang berasal dari mangrove memiliki kemampuan luar biasa dalam mendegradasi mikroplastik jenis polietilen (PE). Dalam penelitian tersebut, jamur ini mampu menguraikan mikroplastik hingga 80 persen hanya dalam waktu 60 hari. Inovasi ini menjadi relevan karena mikroplastik merupakan polutan yang sangat sulit terurai di alam dan telah ditemukan di berbagai lapisan laut, bahkan di wilayah terdalam sekalipun.
Keunikan dari jamur endofit ini terletak pada kemampuannya untuk hidup bersimbiosis dengan tumbuhan mangrove. Melalui pendekatan bioremediasi, jamur ini memanfaatkan enzim yang dihasilkannya untuk memecah ikatan kimia pada polietilen, sehingga mikroplastik dapat terurai menjadi senyawa yang lebih sederhana dan tidak berbahaya. Pendekatan ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga menawarkan alternatif yang lebih ekonomis dibandingkan metode konvensional seperti pembakaran atau penimbunan sampah plastik.
Menurut data yang dihimpun, pencemaran laut akibat mikroplastik terus meningkat setiap tahunnya. Dengan adanya temuan ini, para peneliti berharap dapat segera mengembangkan skala produksi yang lebih besar. Langkah ini penting untuk mengaplikasikan jamur endofit secara langsung di lokasi-lokasi pencemaran tinggi, seperti muara sungai, kawasan pesisir, dan titik akumulasi sampah plastik di lautan.
Dampak Nyata dan Potensi Pengembangan di Masa Depan
Jika teknologi ini berhasil dikembangkan secara komersial, dampaknya akan sangat signifikan bagi lingkungan, sosial, dan ekonomi. Secara lingkungan, pengurangan mikroplastik di laut akan memperbaiki kualitas ekosistem laut dan melindungi keanekaragaman hayati. Secara sosial, masyarakat pesisir yang sangat bergantung pada hasil laut akan merasakan manfaat langsung berupa perbaikan kualitas lingkungan dan keamanan pangan. Adapun secara ekonomi, pengembangan formula enzim untuk degradasi cepat dapat membuka peluang usaha baru di bidang pengelolaan limbah dan industri bioteknologi.
Potensi pengembangan ke depan juga mencakup kerja sama strategis dengan industri pengolahan limbah plastik. Dengan mengintegrasikan jamur endofit ke dalam proses pengolahan limbah, diharapkan beban pencemaran lingkungan dapat ditekan secara signifikan. Selain itu, kolaborasi dengan berbagai lembaga riset dan perguruan tinggi diperlukan untuk mempercepat pengembangan dan uji lapangan di berbagai kondisi lingkungan.
Meski masih diperlukan penelitian lebih lanjut, temuan ini merupakan bukti bahwa solusi berbasis alam dapat menjadi jawaban atas krisis polusi plastik yang sedang melanda dunia. Keberadaan jamur endofit sebagai agen biologis pengurai mikroplastik memberikan harapan nyata bahwa kerusakan lingkungan akibat aktivitas manusia masih dapat dipulihkan.
Refleksi ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya dukungan terhadap riset dan inovasi berkelanjutan di Indonesia. Dukungan kebijakan, pendanaan, dan kesadaran publik menjadi kunci untuk mentransformasi temuan ilmiah menjadi aksi nyata yang berdampak luas. Kita semua memiliki andil untuk mendorong masa depan lautan yang lebih sehat, bukan hanya melalui kebijakan, tetapi juga dukungan terhadap inovasi yang menjanjikan ini.