Beranda / Teknologi Ramah Bumi / Solar-Powered Cold Storage untuk Kurangi Susut Pangan Petani...
Teknologi Ramah Bumi

Solar-Powered Cold Storage untuk Kurangi Susut Pangan Petani di Nusa Tenggara Timur

Solar-Powered Cold Storage untuk Kurangi Susut Pangan Petani di Nusa Tenggara Timur

Inovasi solar cold storage bernama SolarCool berhasil menurunkan susut pangan petani kecil di NTT dari 35% menjadi 10% setelah diuji di 20 desa. Dengan energi terbarukan, biaya operasional 60% lebih murah dan pendapatan petani naik 45%. Rencana replikasi ke 500 desa pada 2027 diharapkan memperkuat ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan.

Di Nusa Tenggara Timur (NTT), petani sayur dan buah menghadapi tantangan besar berupa susut pangan yang mencapai 35 persen akibat keterbatasan fasilitas pendingin pascapanen. Kondisi ini tidak hanya merugikan petani kecil yang menggantungkan hidup pada hasil panen, tetapi juga mengancam ketahanan pangan di wilayah yang rentan terhadap perubahan iklim. Minimnya akses terhadap listrik yang stabil menjadi salah satu kendala utama untuk menyimpan produk segar dalam waktu lama. Di sinilah inovasi energi terbarukan hadir sebagai solusi nyata untuk mengatasi masalah tersebut.

SolarCool: Inovasi Cold Storage Bertenaga Surya untuk Petani Kecil

Startup lokal berkolaborasi dengan Kementerian Pertanian mengembangkan unit cold storage bertenaga surya portabel yang diberi nama SolarCool. Dengan kapasitas penyimpanan hingga dua ton per unit, alat ini dirancang untuk menjangkau daerah-daerah terpencil yang belum teraliri listrik. Sistem baterainya mampu bertahan selama tiga hari penuh tanpa sinar matahari, memastikan operasional tetap berjalan saat cuaca mendung. Pendekatan ini memanfaatkan energi terbarukan secara optimal, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil sekaligus menekan biaya operasional hingga 60 persen lebih murah dibanding genset diesel.

Hasil uji coba di 20 desa di NTT menunjukkan penurunan signifikan susut pangan dari 35 persen menjadi hanya 10 persen. Lebih dari itu, pendapatan petani kecil meningkat rata-rata 45 persen karena kualitas produk tetap terjaga dan dapat dijual dalam waktu lebih lama. Dari segi lingkungan, penggunaan solar cold storage turut mengurangi emisi karbon yang dihasilkan oleh genset diesel konvensional. Inovasi ini membuktikan bahwa teknologi tepat guna bisa memberikan dampak ekonomi sekaligus ekologis secara bersamaan.

Potensi Pengembangan dan Replikasi ke Seluruh NTT

Keberhasilan program ini mendorong rencana replikasi ke 500 desa di NTT pada tahun 2027. Dengan skala yang lebih luas, solar cold storage dapat menjadi tulang punggung sistem rantai dingin yang andal bagi petani kecil di Indonesia timur. Pengembangan ke depan juga membuka peluang untuk mengintegrasikan teknologi ini dengan platform digital guna memantau suhu dan distribusi secara real-time. Inovasi berbasis energi terbarukan seperti SolarCool tidak hanya menjawab masalah susut pangan, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan dan kesejahteraan petani di tengah tantangan perubahan iklim.

Organisasi: Kementerian Pertanian