Beranda / Teknologi Ramah Bumi / Startup Ini Ubah Kotoran Sapi Jadi Bahan Bakar dan Pupuk Org...
Teknologi Ramah Bumi

Startup Ini Ubah Kotoran Sapi Jadi Bahan Bakar dan Pupuk Organik di NTB

Startup Ini Ubah Kotoran Sapi Jadi Bahan Bakar dan Pupuk Organik di NTB

Startup Bumi Lestari Nusantara di Lombok mengubah limbah peternakan menjadi energi terbarukan dan pupuk organik melalui digester biogas portable. Program ini menjangkau 200 keluarga, mengurangi emisi metana 15 ton CO2 per tahun, dan menyediakan pupuk organik 30 persen lebih murah. Inovasi ini membuktikan bahwa masalah lingkungan dapat diubah menjadi solusi ekonomi yang berkelanjutan.

Permasalahan lingkungan akibat limbah peternakan selama bertahun-tahun menjadi momok bagi warga di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Kotoran sapi yang tidak dikelola dengan baik mencemari sungai, menimbulkan bau tak sedap, dan berpotensi menjadi sumber penyakit. Namun, sejak Agustus 2025, sebuah inovasi dari startup Bumi Lestari Nusantara hadir sebagai solusi nyata untuk mengubah masalah ini menjadi berkah, sekaligus menghadirkan energi terbarukan dan pupuk organik yang mendukung ketahanan pangan.

Mengubah Limbah Peternakan menjadi Energi Terbarukan dan Pupuk Organik

Startup yang berfokus pada energi terbarukan dan pengelolaan limbah ini mengoperasikan 20 unit digester biogas portable yang terhubung langsung ke peternakan skala kecil di Lombok. Setiap unit mampu mengolah kotoran dari 5 ekor sapi menjadi biogas yang setara dengan 2 kilogram LPG per hari. Gas ini dapat digunakan untuk kebutuhan memasak sehari-hari, menggantikan bahan bakar fosil dan mengurangi ketergantungan pada LPG yang harganya fluktuatif.

Tidak hanya biogas, proses pengolahan juga menghasilkan slurry—ampas kaya nutrisi—yang kemudian diolah menjadi pupuk organik cair dan padat. Produk pupuk organik ini telah dipasarkan kepada petani di sekitar dengan harga 30 persen lebih murah dibandingkan pupuk kimia. Langkah ini membantu menekan biaya produksi pertanian sekaligus mendorong praktik pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan.

Dampak Lingkungan dan Ekonomi yang Signifikan

Program inovatif ini telah menjangkau 200 keluarga peternak dan mampu mengurangi emisi metana hingga 15 ton CO2 ekivalen per tahun. Metana merupakan gas rumah kaca yang jauh lebih potens dibandingkan karbon dioksida, sehingga pengurangan ini memberikan dampak positif bagi upaya mitigasi perubahan iklim. Dari sisi ekonomi, peternak mendapatkan akses energi murah dan petani memperoleh pupuk organik berkualitas dengan harga terjangkau. Sinergi antara sektor peternakan dan pertanian ini menciptakan ekosistem yang saling menguntungkan dan berkelanjutan.

Keberhasilan ini membuka peluang replikasi yang sangat besar. Mengingat populasi sapi di NTB mencapai 1,2 juta ekor, potensi pengembangan biogas portable dan pupuk organik dari limbah peternakan dapat menjadi solusi nasional. Dengan dukungan pemerintah dan investor, teknologi sederhana namun efektif ini dapat diterapkan di daerah lain yang memiliki sentra peternakan, mempercepat transisi menuju energi terbarukan dan pertanian ramah lingkungan.

Inovasi Bumi Lestari Nusantara membuktikan bahwa masalah lingkungan seperti pencemaran sungai dan emisi gas rumah kaca dapat diubah menjadi peluang ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan alam. Pendekatan berbasis komunitas dan teknologi tepat guna ini memberikan solusi holistik untuk ketahanan pangan dan energi di Indonesia. Artikel ini menginspirasi kita untuk melihat limbah peternakan sebagai sumber daya berharga yang dapat mendorong masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Organisasi: Bumi Lestari Nusantara