Beranda / Teknologi Ramah Bumi / Teknologi Hidrogel Berbasis Singkong Atasi Kekeringan di Sum...
Teknologi Ramah Bumi

Teknologi Hidrogel Berbasis Singkong Atasi Kekeringan di Sumba Timur

Teknologi Hidrogel Berbasis Singkong Atasi Kekeringan di Sumba Timur

Tim peneliti ITB bersama petani Sumba Timur mengembangkan hidrogel superabsorben dari singkong untuk mengatasi kekeringan. Teknologi ini meningkatkan produktivitas sorgum hingga 35% dengan cara menyimpan air di dalam tanah dan melepasnya secara perlahan. Inovasi ramah lingkungan ini berpotensi direplikasi di berbagai wilayah semi-kering Indonesia, mendukung pertanian adaptif dan ekonomi sirkular di NTT.

Kekeringan berkepanjangan di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), telah lama menjadi momok bagi petani yang menggantungkan hidup pada tanaman pangan pokok seperti jagung dan sorgum. Musim kemarau yang ekstrem di wilayah semi-kering ini sering memangkas produktivitas, mengancam ketahanan pangan, dan memiskinkan petani. Namun, di tengah tantangan tersebut, sebuah inovasi ramah lingkungan berbasis bahan lokal hadir sebagai angin segar: hidrogel superabsorben dari singkong (ubi kayu) yang dikembangkan oleh tim peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama mitra lokal.

Teknologi hidrogel ini bekerja seperti 'bank air' di dalam tanah. Serbuk hidrogel yang terbuat dari pati singkong dicampurkan ke dalam lubang tanam saat musim hujan. Ketika hujan turun, partikel hidrogel menyerap dan menyimpan air hingga puluhan kali lipat beratnya, lalu melepaskannya secara perlahan ke akar tanaman saat musim kering tiba. Proses ini memungkinkan tanaman sorgum tetap bertahan dan berproduksi meski tanpa hujan selama 2–3 minggu lebih lama dibandingkan lahan tanpa perlakuan. Uji coba di lahan seluas 5 hektar milik kelompok tani setempat membuktikan bahwa produktivitas sorgum meningkat rata-rata 35%, sehingga pendapatan petani di musim kemarau lebih terjamin.

Solusi Organik untuk Krisis Iklim

Keunggulan utama hidrogel singkong tidak hanya terletak pada efektivitasnya mengatasi kekeringan, tetapi juga pada aspek keberlanjutan. Berbeda dengan hidrogel sintetis yang sulit terurai, hidrogel ini terbuat dari bahan organik yang mudah terdegradasi secara alami setelah 1–2 musim tanam. Artinya, teknologi ini tidak meninggalkan residu plastik atau mikroplastik di dalam tanah, sehingga aman bagi ekosistem mikroba dan kesuburan tanah jangka panjang. Inovasi ini merupakan contoh nyata bagaimana pertanian adaptif dapat berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan.

Potensi replikasi teknologi ini sangat besar, terutama di wilayah semi-kering lain di Indonesia seperti NTB, Gunung Kidul, dan daerah rawan kekeringan di NTT pada umumnya. Bahan baku singkong mudah didapat dan sudah menjadi komoditas lokal, sehingga produksi hidrogel dapat dilakukan secara desentralisasi dengan melibatkan koperasi petani setempat. Saat ini, riset berlanjut untuk meningkatkan daya tahan hidrogel serta memperluas skala produksi, sekaligus menciptakan model ekonomi sirkular dari hulu (petani singkong) ke hilir (petani pengguna hidrogel).

Refleksi dari inovasi ini mengingatkan kita bahwa solusi atas krisis iklim dan ketahanan pangan tidak selalu harus berasal dari teknologi mahal atau asing. Justru, dengan memanfaatkan kearifan lokal dan sumber daya alam yang ada, kita bisa menciptakan alat yang sederhana namun berdampak besar. Hidrogel singkong membuktikan bahwa pertanian bisa bertahan di tengah kekeringan tanpa mengorbankan lingkungan. Inilah wujud inovasi yang benar-benar berkelanjutan: murah, mudah, ramah lingkungan, dan memberdayakan masyarakat.

Organisasi: Institut Teknologi Bandung (ITB)