Di Kabupaten Malang, Jawa Timur, hamparan lahan kering menyimpan potensi pertanian yang besar, namun selama ini terhambat oleh ketersediaan air yang tidak menentu. Pada musim kemarau, banyak lahan terbengkalai karena petani hanya mengandalkan curah hujan. Akibatnya, indeks pertanaman—jumlah kali tanam dalam setahun—sangat rendah, sehingga produktivitas dan pendapatan petani pun tidak optimal. Situasi ini menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan lokal dan kesejahteraan masyarakat.
Inovasi Infrastruktur Air: Embung dan Irigasi Tetes
Menjawab tantangan tersebut, TNI Angkatan Darat melalui program binaan teritorial berkolaborasi dengan petani setempat untuk membangun infrastruktur air sederhana namun efektif. Solusi yang dihasilkan adalah pembangunan embung—kolam penampung air—yang berfungsi menampung air hujan di musim penghujan. Air dari embung kemudian didistribusikan ke lahan pertanian menggunakan sistem irigasi tetes, yaitu jaringan pipa dan selang dengan emitter yang meneteskan air langsung ke zona perakaran tanaman. Pendekatan ini dipilih karena efisiensi penggunaan airnya sangat tinggi, mencapai 90% dibandingkan irigasi konvensional yang sering kehilangan air akibat penguapan dan limpasan.
Dampak Nyata bagi Petani dan Ketahanan Pangan
Kolaborasi antara TNI dan petani ini membawa dampak yang signifikan. Dengan ketersediaan air yang lebih terjamin, petani dapat meningkatkan indeks pertanaman dari satu kali menjadi dua atau bahkan tiga kali tanam dalam setahun. Tanaman hortikultura bernilai tinggi seperti cabai, tomat, dan sayuran daun kini bisa dibudidayakan sepanjang tahun. Hasilnya, pendapatan rumah tangga petani meningkat drastis, dan ketahanan pangan di tingkat lokal pun semakin kuat. Model ini menunjukkan bahwa solusi ketahanan pangan tidak selalu membutuhkan teknologi tinggi, melainkan infrastruktur dasar yang tepat guna, dikelola secara partisipatif, dan didukung oleh sinergi berbagai pihak.
Inovasi embung dan irigasi tetes di lahan kering Malang ini sangat aplikatif dan berpotensi direplikasi di banyak daerah lahan kering lainnya di Indonesia. Keberhasilan program ini membuktikan bahwa kolaborasi antara TNI, pemerintah, dan masyarakat dapat menjadi motor penggerak transformasi pertanian. Ke depan, pengembangan model serupa perlu didukung dengan pendampingan teknis, akses permodalan, dan penguatan kelembagaan petani agar keberlanjutan sistem terjaga. Dengan demikian, lahan-lahan kering yang selama ini dianggap marginal dapat berubah menjadi lumbung pangan yang produktif dan berdaya saing.